jelajah kota garut

Jelajah Garut Seru dengan Keluarga Tercinta

Setelah menikah dan ikut suami tinggal di Jakarta bawaannya suka baper kalau lihat temen-temen kampus dulu pada posting-posting berbagai destinasi liburan. Dulu waktu kuliah kebetulan masih lugu banget jadi belum jelajah-jelajah tempat wisata. Apalagi setelah menikah dan dikaruniai dua malaikat kecilku waktu buat jalan-jalan agak sedikit terhambat karena mesti mikirin anak-anak yang masih kecil takut sakit. Maklum parnonya seorang ibu.. hehehe.. Setelah anak-anak sudah cukup umur buat jalan-jalan, liburan kemarin saya dan suami memutuskan untuk menghabiskan waktu di kota Garut.

Keputusan kami disambut riang sama anak-anak karena mereka memang belum pernah saya ajak liburan ke Garut. Pengen juga lepasin penat dari keruwetan Jakarta ke destinasi yang adem ayem yakni Garut. Bukan tanpa pertimbangan ya, tapi lihat dari berbagai postingan dan browsing sana-sini, Garut nampaknya pilihan yang tepat banget buat ngilangin penat karena kerjaan. Selain itu, saya dan suami dan tentunya anak-anak belum pernah kesini, jadilah semakin excited kami-nya.

Hari-H datang juga nih.. Kami putusin buat nginep di Kampung Sumber Alam dan saya sudah booked Bungalow-nya dari jauh-jauh hari via internet. Setelah menyelesaikan administrasi DP rasanya sudah tenang banget karena memang kami pengennya nginep disana. Saya mutusin buat booking duluan karena penginapan ini banyak banget peminatnya dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Apalagi saya kan perginya waktu liburan, jadi saya takut kehabisan kamar.

Tips juga buat Anda yang mau liburan ke Garut nih, booking kamarnya harus jauh-jauh hari ya biar sesuai harapan. Oh iya, kenapa saya dan suami mutusin buat nginep di Bungalow Kampung Sumber Alam itu karena setelah intip-intip dan mantengin website sama review-reviewnya resort ini bersih dan pemandangannya indah banget. Selain itu, harganya juga nggak nguras kantong. Kami cuma perlu bayar 800 ribuan saja sudah including makan buat empat orang.

Kira-kira pukul 8 pagi saya dan keluarga tancap gas menuju kota Garut. Tapi karena sejalan sama Candi Cangkuang, saya sama suami sepakat buat mampir ke situs peninggalan sejarah ini. seru banget lho wisata di Candi ini. Kami kudu naik perahu dulu sebelum sampai ke Candi Cangkuang, bisa dibayangin kan gimana senengnya anak-anak. Ini jadi pengalaman baru dan pastinya tempatnya juga edukatif banget buat anak-anak.

Dan akhirnya kira-kira jam 2 siang saya dan keluarga sudah sampai di Kampung Sumber Alam dan saya langsung check-in terus cus deh ke Bungalow nomor 1. Posisi Bungalow pesenan kami strategis karena tepat berada di depan kolam renang. Terus fasilitasnya juga lengkap ada kolam berendam di dalam Bungalow yang bikin anak-anak saya kegirangan. Tapi ranjangnya cuma ada satu, ya mungkin karena saya sama keluarga sudah biasa tidur guling-guling bebas di rumah jadi satu ranjang kerasa sempit. Setelah sampai, kami semua langsung pada tidur karena cape perjalanan, apalagi anak-anak langsung pules aja mereka. Ya walaupun kudu mepet-mepetan tapi malah seru.

Menjelang sore sekitar jam empat kami sudah bangun terus mandi giliran di kamar mandi yang cukup recommended. Anak-anak saya pada asyik berendam di kolam kamar mandi sampai susah banget diajakin udahan. Setelah dandan rapi semua waktu sudah menunjukkan jam buat makan malam. Kami bergegas ke restoran yang letaknya nggak jauh dari kolam renang depan Bungalow. Tinggal nukerin kupon makan malam yang saya punya kami berempat sudah bisa makan malam dengan masakan yang enak dan sesuai lidah. Habis makan malam, saya dan keluarga pergi jalan-jalan ke alun-alun Garut yang ternyata ramai pengunjung juga.

Setelah putar-putar alun-alun, suami nanya mau kemana lagi. Mungkin karena capek jalannya jadi perut mulai laper lagi. Ternyata anak-anak juga pengen makan lagi, akhirnya kami lanjut makan malam ronde kedua di Nasi Liwet Asep Stoberi. Lokasinya nggak jauh dari penginapan. Selain sajiannya enak, tersedia WiFi juga jadi anak-anak saya jadi betah. Hehe.. Akhirnya kami pun kembali ke penginapan. Sensasi tenang dan damainya benar-benar kerasa di malam hari. Ditambah kesejukan udara yang ditawarkan kota Garut, bikin lupa segala pikiran dan stress pekerjaan. Meskipun cuma sehari semalam tapi kami bener-bener ngerasain real liburan karena suasana tenangnya yang jauh dari kebisingan kota.

Berkunjung Ke Lokasi Penambangan yang Jadi Taman Wisata Yogyakarta

Jadi ceritanya saya yang dari Jakarta ini ingin menengok saudara yang sedang memiliki bayi dan kebetulan tinggal di Yogyakarta. Lagipula sebelumnya saya dan suami sudah berencana untuk liburan ke luar kota di akhir tahun ini, tapi memilih destinasi wisata yang tidak terlalu jauh agar tidak repot ke sananya dan rupanya beberapa hari lalu malah mendapatkan kabar kalau ada saudara di kota gudheg itu habis melahirkan. Jadi sepakat kami sekeluarga akan menghabiskan waktu liburan di sana, hitung-hitung pergi melepas penat sama sekalian menyenangkan dua anak kami yang masih kecil-kecil Kesya (6 tahun) dan Azka (4 tahun).

Jadi hari Kamis kami siap pergi dengan mobil sekeluarga dari Jakarta ke Yogyakarta, karena lagi masa liburan tentu tidak mengejutkan perjalanannya lumayan lama sebab macet dari banyak orang-orang Jakarta yang selain kami pergi ke luar kota. Untungnya, awal saya pikir anak-anak bakal rewel sepanjang perjalanan, tapi ternyata mereka tenang-tenang saja dan hanya menangis sebentar kalau tidak dibelikan mainan selama perjalanan.

Nah, sebelum kita pergi ke Yogyakarta, saya bilang sama suami kalau ingin pergi ke Taman Tebing Breksi yang lagi ngetop-ngetopnya di sana sekalian memuaskan rasa penasaran tempatnya seperti apa. Sesampainya di Yogyakarta, kami pun langsung menginap di tempat saudara dan beberapa hari wisata kulineran ditemani mereka. Akhirnya Minggu pagi saya sekeluarga pergi ke Tebing Breksi yang ada di daerah Kabupaten Sleman, Prambanan, ke sana kurang lebih setengah sampai satu jaman, untung jaraknya tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh dengan mobil meski jalannya agak menanjak dan berliku-liku.

Keindahan Tebing Breksi yang Tiada Duanya

Sesampainya di sana, kami kaget karena tidak ada tiket masuk, cuma dipungut biaya parkir seikhlasnya dan saya beri 20 ribu karena hitung-hitung beramal. Sampai di tempat parkiran mobil yang lumayan luas, anak-anak langsung rewel karena ingin segera turun dan menikmati panorama Tebing Breksi.

Sekilas tentang tempat ini, tebing Breksi itu rupanya dahulu dipakai sebagai lokasi penambangan oleh warga sekitar namun akhirnya ada pelarangan untuk menambang di tempat itu oleh pihak berwenang jadinya sekarang dipakai sebagai spot wisata alam baru di Yogyakarta. Lokasinya sendiri dekat dengan candi Ijo, jadi kita-kita bisa berkunjung ke Candi Ijo lalu langsung ke tebing Breksi dan sebaliknya.

Pemandangannya sungguh indah karena tempatnya yang luas meski banyak hamparan batu-batu besar di sana dan malah justru itu yang jadi poin menariknya. Selain itu, orang-orang yang berjualan tidak boleh menyebar di sana tetapi ditempatkan di pinggiran di satu sisi sehingga lebih rapi tertata. Semenjak jadi daerah wisata baru di Yogyakarta, tebing ini lebih digarap serius oleh pengelola setempat karena sekarang di bebatuannya terdapat ukir-ukiran wayang besar yang amat bagus dan cocok dijadikan tempat selfie. Saya dan suami langsung saja berfoto bersama anak-anak.

Ada tangga-tangga tinggi yang dinaiki untuk sampai ke puncaknya. Di tengah-tengah tangga ini ada warga sekitar yang menawarkan untuk berfoto bersama dengan burung hantu dan lagi-lagi bayar seikhlasnya. Sebetulnya saya sedikit takut berfoto dengan burung hantu besar-besar tersebut, tetapi karena anak-anak kepingin banget jadinya saya sekalian ikut berfoto. Mas-masnya yang nawarin burung hantu juga ramah-ramah jadi it’s okay lah…

Pas sampai di puncaknya kami sungguh dikejutkan dengan pemandangan luar biasa seluruh kota Yogyakarta. Seperti berada di atas awan karena ada sedikit kabut-kabut yang terlihat. Tempatnya sungguh segar dengan pemandangan taman berumput yang luas dan juga ada beberapa batu-batu yang bisa dijadikan tempat duduk serta kursi dari bambu. Di sana yang asyik ada beberapa saung seperti yang kita sering lihat di tengah sawah, bisa dipakai untuk tempat duduk-duduk sambil menikmati pemandangan alam kota Yogyakarta dari ketinggian. Kita bisa melihat candi Prambanan dari kejauhan, juga candi Ijo.

Banyak muda-mudi dan pasangan maupun keluarga yang datang ke tempat ini, memang tidak perlu wahana apapun untuk menarik para wisatawan berkunjung ke sana. Di tempat itu juga terdapat tulisan-tulisan lucu dan unik yang dapat dibaca. Banyak pasangan yang berfoto selfie dan tentunya saya serta suami juga memanfaatkannya sambil terus mengawasi Kesya dan Azka yang lari kesana kemari.

Pokoknya tempat ini murah meriah dan cocok dipakai sebagai tempat untuk selfie atau foto-foto. Bahkan saat pertama kali melihat dari jauh saya langsung nyeletuk ke suami yang lagi nyetir, “Pah, tempatnya bagus buat dijadikan foto prewedding, ya?” dan suami malah menggoda tanya apa saya mau menikah lagi, hehehe…

Setelah sejaman lebih di sana dan puas berselfie maupun jajan panganan sedikit, akhirnya kami sekeluarga pulang karena anak-anak juga sudah pada capek dan ingin istirahat. Demikian pengalaman saya berwisata sekeluarga ke tebing Breksi yang luar biasa indah.

Save

Save

Save